Written by admin on April 12, 2010 – 4:07 pm
Sebelum belajar tentang penerjemahan ada baiknya kita memahami bahwa sejatinya ada dua bentuk sistem pengajaran dan pengertian berbahasa Inggris. Dua sistem besar inilah yang dianut beberapa lembaga pengajaran di Indonesia.
1. ENL (English as Native Language)
Bahasa Inggris diterjemahkan dan diajarkan meniru dari kultur aslinya. Mulai dari pemilihan kata, hingga intonasi berusaha untuk didekatkan pada negara-negara pengguna bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya.
Aliran inilah yang banyak dianut oleh lembaga pengajaran bahasa Inggris di Indoensia. Tidak mengherankan jika banyak dari siswa lembaga bahasa inggris di Indonesia yang paham teori struktur kalimat bahasa inggris, tetapi sulit untuk berkomunikasi. Ini di karenakan bentuk kultur yang berbeda.
2. ESL (English as Second Language)
Mempelajari bahasa inggris yang satu ini adalah dengan menggali struktur dasarnya hingga bisa diterapkan pada kultur masing-masing. Baik dari pemilihan kata maupun intonasi bisa sangat berbeda. Tapi karena kita menguasai struktur paling dasarnya dan membiarkan modifikasinya bebas, kita jadi tidak terikat. Metode ini digunakan di lembaga khusus penerjemahan Hapsa et studia
Kenapa banyak yang menggunakan metode ENL? Banyak yang beranggapan bahwa berbahas Inggris harus lah sesuai dengan negara-negara yang memiliki bahasa ibu bahasa inggris. Dan jika tidak sesuai baik pemilihan kata maupun intonasi dianggap tidak baik, tidak keren, kurang sempurna dan lain sebagainya.
Padahal dibelahan dunia manapun (Selain yang berbahasa ibu inggris), tidak ada keharusan untuk meniru tata bahasa inggris negara-negara berbahasa ibu inggris macam Amerika Serikat dan Inggris. Tengoklah ke China, maka kita akan menemukan bahasa Inggris Cina. Beralihlah ke Jepang maka kita akan menemukan Bahasa Inggris Jepang.
Bagaimana dengan para penerjemah? Tentunya kita harus menguasai ESL. Kenapa tidak ENL? Baik coba bayangkan anda menjadi interpreter orang berkebangsaan China. Dalam sebuah jamuan makan malam ia bertemu orang baru, Kemudian dia bertanya dalam bahasa inggris dengan logat seperti ini:
“wahcu nem La?”
Bisakah anda menerjemahkannya untuk lawan bicaranya? Tidak bisa? Itu karena kita berpatokan dengan tata bahasa inggris dari negara berbahasa ibu inggris. Kita tempatkan situasinya ketika orang baru bertemu, dan berkenalan. Coba susun kembali kalimatnya, apa yang biasa ditanyakan, maka akan keluar kalimat seperti ini:
“What is your name La?”
Dia bertanya tentang nama lawan bicaranya. Lantas apa artinya La? Ini merupakan logat dari kultur orang China tersebut yang bisa kita abaikan. Ini adalah salah satu contoh kenapa kita harus memahami ESL.
Setelah kita paham ESL, maka kita perlu belajar tentang struktur bangun sebuah pesan. Ini akan dilanjutkan pada posting berikutnya.
Sebelum mengakhiri postingan ini saya akan memberikan contoh seorang Profesor asal Indonesia. Yang sudah tinggal di Amerika Serikat selama 8 tahun. HAsil penelitiannya di salah satu universitas di Amerika Serikat, mengundang CNN untuk mewawancarainya. Setelah itu beliau di wawancarai oleh sedikitnya 8 media asing.
Coba anda dengar dan perhatikan. Jika anda penganut paham ENL, pastinya anda akan langsung menilai bahasa inggris Roby muhamad jelek. Tapi apakah mungkin jika bahasa inggrisnya buruk dan tak bisa dipahami CNN akan menjadikannya narasumber? Inilah contoh bahwa yang terpenting adalah tata bahasa dan bukan memahami kultur bahasa inggris amerika atau bahasa inggris UK. Selamat menyaksikan.

kerennn… keep posting gan
Saya sangat setuju apa yang menjadi pemikiran anda.
sangat menarik… memang kebanyakan orang indonesia yang mempelajari atau yang sedang menggunakan bahasa inggris selalu berusaha untuk menyamai gaya berbahasa bahasa inggris amerika atau inggris,padahal yang utama dalam komunikasi satu sama lain saling memahami..I like it
Wah, jadi ternyata kita tidak perlu memaksakan diri ngomong cas-cis-cus persis orang bule asli…. pake logat jawa (dan konstruksi kalimat bahasa jawa) pun nggak apa-apa ya…
Oh iya… poin pertama itu sering saya lihat di terjemahan buku2 dari bhs inggris, itu bikin saya males baca buku terjemahan akhir2 ini karena gaya bahasanya nggak natural spt gaya bahasa tertulis yang digunakan penutur asli bahasa indonesia. anehnya ada teman yg berpendapat bahwa dalam penerjemahan gaya bahasa (pola kalimat, struktur kalimat majemuk, bahkan beberapa referensi kultural yang tidak dikenal pembaca) tetap harus dipertahankan. padahal daripada baca terjemahan nanggung mendingan baca buku di bahasa aslinya sekalian
makasih buat sarannya… membuat saya merasa agak lebih pede dengan bahasa inggris saya